Home | Event | Anak Garuda, Kisah Inspiratif Tujuh Anak Millenial Dari Sekolah Selamat Pagi Indonesia

Anak Garuda, Kisah Inspiratif Tujuh Anak Millenial Dari Sekolah Selamat Pagi Indonesia

Event - 14 January, 2020 Oleh @Yulia Dewi

Anak Garuda menjadi film kedua dari Butterfly Pictures yang mengangkat kehidupan anak-anak dari Sekolah Selamat Pagi Indonesia

WowChannelz.com -   Sekolah Selamat Pagi Indonesia (SPI) yang berada di Kota Batu, Malang, Jawa Timur kembali memproduksi sebuah film baru yang berlatar belakang kisah nyata. Dibawah naungan rumah produksi Butterfly Pictures, film yang bertajuk "Anak Garuda" ini terinspirasi dari kisah nyata perjuangan 7 anak milenial dari SPI, mereka adalah Robert, Olfa, Wayan, Sheren, Dila, Sayidah, dan Rohana.

 

"Awalnya memang dari Robert yang memimpin multi media di SPI yang punya cita-cita pingin punya PH (Rumah Produksi), ketika ada seorang pengusaha besar mau mensponsori dengan syarat harus true story, kenapa ngga. Akhirnya kita bikin film ini," kata Julianto Eka Putra atau biasa disapa Koh Jul, sang inisiator kepada awak media di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan pada Senin (13/1/2020).

 

Melalui tangan dingin penulis Alim Sudio dan digarap oleh sutradara Faozan Rizal dan Verdi Solaiman. Sederet nama bintang muda juga diminta memerankan tujuh tokoh nyata ini, Tissa Biani sebagai Sayidah, Violla Georgie sebagai Yohana, Ajil Ditto sebagai Robert, Clairine Clay sebagai Olfa, Geraldy Kreckoff sebagai Wayan, Rania Putrisari sebagai Sheren, Rebecca Klopper sebagai Dila dan Kiki Narendra berperan sebagai Koh Jul.

 

Ditemui saat press screening dan Gala Premier film Anak Garuda, Verdi Solaiman yang juga bertindak sebagai produser dan co-sutradara menyatakan sangat terinspirasi kisah perjuangan yang ada di SPI. "Aslinya, saya ini memang sangat terkesan dengan siswa-siswi di sini. Tak cuma sanggup mengatasi hambatan pribadi yang rumit, seperti self-esteem dan percaya diri, mereka semua serius mengasah skill agar bisa jadi usahawan muda yang suksea, lalu mereka juga mampu membentuk tim kerja yang efisien dan valuable. Padahal mereka masih sangat muda," beber Verdi.

 

Dengan latar belakang perjuangan ketujuh anak milenial ini hingga sampai ke Eropa, film ini sangat cocok untuk anak muda yang ingin mengejar cita-cita. Ketujuh anak-anak yang berasal dari kalangan yang kurang beruntung ini berhasil membuat sebuah film yang inspiratif bukan hanya bagi kaum muda tapi juga keluarga.

Anak Garuda
Para pendukung dan cast Anak Garuda (Foto; Yulia)

 

"Ini sebuah film yang berlatar belakang kisah nyata, cerita mereka apa adanya tidak dibuat-buat. Disaat semua kita pasrah dengan yang terjadi ada power yang bisa dibanggakan. Seperti impian jadi nyata. Mereka didik untuk gak pernah nyerah, ada banyak banget kisah nyata yg luar biasa menarik, memilah cerita mereka agar pas menjadi satu keutuhan itu yg membuat tantangan tidak mudah. Setiap karakternya merepresentasikan anak muda saat ini," ujar Alim Sudio.

 

Ketujuh anak muda yang juga hadir pada kesempatan yang sama merasa bangga kisah hidup mereka diangkat ke layar lebar, apalagi dalam film ini mereka juga terlibat langsung dalam produksi film Anak Garuda. "Bangga banget kisah hidup kita diangkat ke layar lebar, jujur sampai gak bisa ngomong saking bahagianya. Apalagi sejak kecil saya pingin banget ke Menara Eifel dan ini pengalaman yang luar biasa bisa dibagikan kepada penonton bagaimana perasaan kita waktu di sana," ungkap Olfa.

 

Tissa Biani yang berperan sebagai Sayidah mengaku bertemu dengan pengalaman baru dan mengalami banyak pelajaran yang bisa diambil. "Senang banget, banyak banget pelajaran yang saya ambil mulai arti hidup dan perjuangan hidup sesungguhnya. Apalagi dari karakter yang aku perankan, banyak pelajaran yang aku ambil juga dari sotu termasuk ketemu dengan keluarga baru," katanya.

 

Film yang mengambil syuting di beberapa kota di Eropa dan Kota Batu Malang ini akan tayang mulai 16 Januari 2020 di seluruh bioskop tanah air. SPI adalah sekolah bagi para anak yang kurang beruntung, dibuka sejak tahun 2007. Berdiri di atas tanah seluas 21 hektar sebagian besar dialokasikan untuk unit-unit bisnis yang dikelola para siswa dan alumni, mulai dari peternakan, pertanian, perhotelan, pertunjukan, pariwisata, hingga produksi film.