Home | News | Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi, Komedi Lucu Yang Tidak Bikin Tertawa

Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi, Komedi Lucu Yang Tidak Bikin Tertawa

News - 16 July, 2019 Oleh @Yulia Dewi

Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi (DMDK) garapan sutradara John De Rantau berusaha menerjemahkan sebuah tema masyarakat kelas bawah di era 90-an,

WowChannelz.com -   Diangkat dari karya cerpen penulis Seno Gumira Adjidarma, “Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi” (DMDK) garapan sutradara John De Rantau berusaha menerjemahkan apa yang tertulis pada cerpen tersebut. Mengangkat sebuah tema masyarakat kelas bawah di era 90-an, DMDK menjadi sebuah komedi satir yang menghadirkan kelucuan di tengah konflik yang terjadi pada masyarakat kebanyakan kala itu.

John De Rantau yang telah beberapa kali menggarap film dengan tema serius, seperti “Mencari Madonna (2004), “Senandung di Atas Awan” (2006), “Obama Anak Menteng” (2010), “Semesta Mendukung” (2011), dan “Wage” di tahun 2018. Kali ini, sutradara kelahiran Padang, 2 Januari 1970 ini menyuguhkan suasana berbeda, John mengaku kalau DMDK adalah sebuah karya terbaik yang dihasilkannya. Apa benar?

Kita simak saja , DMDK mengisahkan tentang seorang gadis Sophie (Elvira Devina) yang tiba-tiba berada di sebuah Kampung Lapak yang dihuni oleh orang-orang yang bertolak belakang dengan sosoknya. Sebuah pemukiman yang diisi oleh berbagai latar belakang masyarakat yang berbeda, multi etnis. Sejak kedatangan Sophie yang berwajah cantik dan sexy, kampung tersebut seketika berubah drastis.

Kehadiran Sophie yang membutuhkan studi untuk menyelesaikan tesisnya ini rupanya menjadi sumber petaka bagi gerombolan istri. Sosok Sophie yang aduhai adalah “selingan” segar bagi para suami dan laki-laki, baik tua maupun muda. Mereka rela mengantri di suatu tempat untuk mengintip sang gadis yang sedang mandi melalui sebuah lubang kecil. Sophie yang selalu bernyanyi di kamar mandi mengundang laki-laki untuk berfantasi nakal seraya membayangkan tubuh Sophie yang sedang mandi.

dilarang Menyanyi di Kamar mandi
Sophie sang gadis cantik (Foto: Doknet)

Kegilaan para lelaki di kampung tersebut pun makin menjadi, alhasil para istri dirumah blingsatan karena berbulan-bulan tidak dinafkahi bathin oleh para suaminya masing-masing. Sedhasyat itukah fantasi laki-laki dengan membayangkannya saja sudah membuat mereka enggan untuk bersentuhan dengan istrinya di rumah. Sayangnya, di antara mereka mungkin ada yang kebablasan, mungkin juga tidak. Tetapi Sophie sudah keburu menjadi kambing hitam warga. Kehadirannya seketika membuahkan peperangan asumsi yang mana bumbu-bumbu negatif lebih mendominasi situasi. Atas dasar itulah kemudian para istri protes, dan meminta Ketua RT (Mathias Muchus) untuk mengusir Sophie dari kampung tersebut.

Pada akhirnya dengan mudah Sophie pun pergi dari kampung itu, dan pindah ke sebuah apartemen yang berada persis di sebelah kampung tersebut. Para lelaki itupun hanya bisa menghayalkan Sophie dengan melihat ke gedung tersebut.

Himaya Studio tertarik untuk mengangkat kembali cerpen Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi ini ke dalam film di era millennial. Semua pemain yang terlibat cukup mumpuni di bidang peran, namun sayangnya, John de Rantau masih kurang jeli dalam penulisan skenario. Ceritanya pun terkesan terburu-buru, beberapa scene yang dihasilkan masih terlihat kasar dalam setiap perpindahannya.

Muatan komedi dalam setiap karakter dan tokoh yang ditampilkan masih terlihat secara settingan, belum natural sehingga kelucuan yang ditampilkan terlihat garing. Yang seharusnya dengan dialog saja kita bisa buat tertawa, di filmnya kali ini penonton dibuat tersenyum kecut. Terlihat kalau penulis skenario yang ditulisnya bersama Seno Gumira Adjidarma berusaha sekuat tenaga untuk menghadirkan kelucuan dari masing-masing karakter. Entahlah, apa memang selera John de Rantau yang terlalu tinggi selera humornya atau memang komedi yang ditampilkan tidak ada sesuatu yang baru. Sebetulnya aktor maupun para aktris yang terlibat di dalamnya berhasil berperan sesuai dengan yang diinginkan sang sutradara, walaupun beberapa pemeran masih terlihat kaku dalam berakting.

Begitu banyak tokoh yang ditampilkan, namun terlihat John hanya mencampur aduk semuanya tanpa melihat komposisi yang tepat. Yang penting lucu, begitu mungkin kesannya. Selera komedi John de Rantau yang terlalu tinggi membuat kesan komedi yang ditampilkan pun tidak sampai ke penonton. Beberapa adegan sedikit dipaksakan hingga membentuk sebuah konflik. Apalagi kemunculan sosok laki-laki yang menarik perhatian Sophie yang sebetulnya tidak penting-penting amat ada di situ, tiba-tiba diceritakan bahwa laki-laki tersebut menulis sebuah buku tentang kisah Sophie.

Kehadiran para lelaki yang berfantasi melihat sosok Sophie terlihat berulang-ulang ditampilkan, dan sama sekali tidak menampilkan kelucuan bagi saya yang menonton. Jujur gelik! Salah satu yang menghibur mungkin dengan kehadiran para ibu yang berdemo menuntut agar para lelakinya kembali kepelukannya. Itupun dibuat berulang-ulang sehingga terkesan membosankan. Namun, shot-shot yang diperlihatkan dari sosok Sophie dan juga pengambilan gambar patut diacungi jempol. John berhasil menggarapnya dengan baik.

“Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi” menjadi sebuah tontonan komedi situasi yang berupa sindiran kepada masyarakat kelas bawah namun terlalu tinggi ekspectasinya sehingga diperlukan kemampuan ekstra untuk memahami bahasa dan kesan moral apa yang ditampilkan di film ini.

Akhirnya, film ini seolah menjadi cermin kebiasaan masyarakat kita yang suka menyalahkan atau mengambinghitamkan sosok baru di dalam lingkungan atas masalah yang dialami dalam hidupnya.

Tidak bisa dipungkiri, hal-hal yang tertulis dalam cerpen karangan Seno Gumira Ajidarma ini bisa dikatakan masih sangat relevan dengan kondisi masyarakat saat ini. Sebagai sutradara, John de Rantau cukup mampu meramu cerpen ini menjadi tontonan yang memberikan “sentilan-sentilan” terhadap kondisi bermasyarakat ini dengan komedi satir.

Selain memiliki komposisi cerita yang baru, tokoh-tokoh di film ini pun diperankan oleh sederet artis senior seperti Mathias Muchus, YurikePrastika, Yan Widjaya, Inggrid Widjanarko, Anna Tarigan, dan masih banyak lagi. Sementara itu, sosok Sophie diperankan oleh mantan Putri Indonesia 2014, Elvira Devinamira.