Home | Event | Khalishah Isyana, Bermain Musik Bukan Sekedar Memainkan Nada

Khalishah Isyana, Bermain Musik Bukan Sekedar Memainkan Nada

Event - 5 May, 2019 Oleh @Yulia Dewi

Khalishah Isyana yang mempersembahkan sebuah pertunjukan resital kelulusan bertajuk “Baca Nada”.

WowChannelz.com -   Satu lagi lahir seorang musisi berbakat dari sekolah musik yang telah mencetak beberapa musisi tanah air, lulusan sekolah musik di Daya Indonesia Performing Arts Academy (DIPAA), yang dulunya bernama Institut Musik Daya Indonesi. Adalah Khalishah Isyana yang mempersembahkan sebuah pertunjukan resital kelulusan bertajuk “Baca Nada”.

Bersama dengan ketiga temannya Aloysius Cahyo Pradanto, Cecillia Cati, dan Indra Bayu Rusady, perempuan yang akrab dipanggil Nana ini membawakan empat lagu berdasarkan aransinya sendiri antara lain “Partita No. 2 in C Minor ‘Capriccio’ “ – J.S. Bach di mana Nana akan memainkan piano. Ia juga akan menyanyi dalam lagu ‘My Foolish Heart’ – Victor Young & Ned Washington.

Graduation Recital (Resital Kelulusan) kali ini adalah yang ke-13 kalinya dilaksanakan sebagai syarat kelulusan di sekolah musik DIPAA ini.

Nana yang mulai mengenal musik pada usia tiga tahun ini memilih piano sebagai instrument pertamanya. Gadis kelahiran Jakarta tahun 1995 ini pernah belajar di beberapa sekolah musik sseperti PMC dan Purwacaraka Music School, sampai pada akhirnya di tahun 2014 hingga 2019 ia menimba ilmu sekaligus terus mengasah kemampuan bermusiknya di  Daya Indonesia Performing Arts Academy (DIPAA).

Khalishah Isyana
Khalishah Isyana mempertunjukkan keahliannya dalam memainkan piano (Foto: YT)

“Selama lima tahun banyak sekali yang saya dapat di sini. Kadang orang berfikir belajar musik itu hanya main musik aja, sebetulnya nggak juga. Tapi di sini kita belajar sejarah, teori, ideology sebagai musisi, sosiologi, belajar semuanya. Intinya hal yang orang kira Cuma belajar musiknya aja ternyata nggak, banyak banget yang harus bisa dikuasai,” tutur gadis berusia 24 tahun ini usai ditemui di acara resital kelulusannya di Teater Salihara, Jakarta Selatan pada Kamis (2/5/2019).

Dalam acara ini terlihat sekali Nana sangat menguasai beberapa lagu yang dibawakannya, gerakan tangannya yang lincah menghasilkan nada yang membuat penonton kagum akan penampilannya pada malam itu. Bukan hanya piawai memainkan tuts piano, bersama dengan Bigband, Nana juga menjadi konduktor pada lagu ‘Pipoca’ – Hermeto Pascoal. Pentas musik yang dibagi beberapa segmen ini hampir semuanya diisi oleh Nana dengan berbagai keahlian, bahkan juga menyanyi. Yang menarik, pada sesi terakhir Nana membawakan lagu ‘Ambilkan Bulan Bu’ karya AT. Mahmud yang dipersembahkannya untuk ibundanya tercinta.

Pada lagu ini Nana kembali memainkan piano, sementara adiknya, Kalya Vanessa Natania menyanyikan lagu tersebut. “Lagu itu memang dipilih untuk dipersembahkan untuk ibu saya,  jadi kalau dari lagu Bigband kan ada dua yang dibawain.  Ada lagu jazz dan kontemporer, yang satu lagi lagu anak atau lagu daerah.  Jadi sebelumnya lagi ibu saya pernah bilang sebelum kelulusan ini pingin saya bawain ‘Thanks for The Music’, cuma itu  pernah saya bawain beberapa bulan lalu. Trus aku mikir lagu ini,” papar Nana.

Setelah acara resital kelulusan ini, Nana tetap akan menggali keahliannya dalam bermusik dan tetap akan terus belajar. Bahkan kedepannya Nana sudah merencanakan sebuah karya dan melakukan rekaman di Budapest, Hungaria.

Khalishah Isyana
Khalishah Isyana sebagai konduktor dalam acara resital kelulusan di Teater Salihara, Jakarta Selatan. (Foto: YT)

“Secara pendidikan gak semua orang melihat musik itu ilmu pengetahuan, padahal musik itu kayak matematika,  kayak fisika juga yang rumusnya segala macam. Jadi orang lebih menghargai musik dan lebih menghargai pekerjaan musisi tapi yang paling utama tidak melupakan identitas musiknya sendiri,” pungkas Nana.

Nana juga banyak mengerjakan berbagai produksi musik lintas disiplin seni dan berkolaborasi dengan banyak pelaku seni pada drama musikal di antaranya, Musikal Petualangan Sherina (2017 dan 2018 sebagai Music Director, Composer, Arranger, Orchestrator, & Conductor), Pak Pandir Sebuah Muzikal (2018,  Arranger & Orchestrator), dan Dongeng Pohon Impian (2019, Composer & Conductor).

Nana juga pernah menjadi penata musik untuk film pendek fiksi seperti Sebelum Tidur (2017), dan film dokumenter Kakao Kakek Lasah (2018), Mendengar dengan Tahmid (2018), Kita Makan Apa? (2019), Masakan Rumah (2019). 

Baru-baru ini ia juga menjadi penata musik untuk kampanye iklan (2018) dan (2019) yang bekerjasama dengan Greenpeace Indonesia. Kemampuannya sebagai pencipta lagu terus ia asah untuk dirinya sendiri maupun berkolaborasi dengan berbagai solois muda, antara lain lagu Punya Waktu (2018), Makna Hadirmu (2018), dan Mendengar Laut (2019).

Bahkan, di usianya yang baru menginjak 23 tahun, ia sudah menjadi nominator AMI Awards 2018 dalam kategori penata musik lagu anak-anak terbaik. Namun hal itu tak membuatnya merasa cepat puas. Justru setelah lulus dari DIPAA, Nana berencana untuk terus menyebarluaskan ilmu dan kreativitasnya dalam berkarya dengan membangun perusahaan rintisan di bidang kreatif agar dapat terus berkolaborasi dan menjadi manfaat untuk lebih banyak pihak dengan musik yang diciptakannya. (YD)