Home | News | Melestarikan Budaya, Anna Mariana Bersama KTTI Berupaya Mencanangkan "Hari Tenun Nasional"

Melestarikan Budaya, Anna Mariana Bersama KTTI Berupaya Mencanangkan "Hari Tenun Nasional"

News - 25 January, 2019 Oleh @Yulia Dewi

Anna Mariana dan Komunitas Tekstil Tradisional Indonesia (KTTI) memperjuangkan agar tenun tradisional Indonesia dirayakan seluruh warga Indonesia dengan Hari Tenun Nasional

WowChannelz.com -   Indonesia yang kaya akan budaya tradisional,  mempunyai beragam kerajinan tradisional salah satunya adalah dari sisi sandang. Beragam corak pakaian adat maupun sehari-hari semuanya tak luput dari karya seni para pengrajin di Tanah Air, seperti tenun dan songket yang  berbeda dari setiap daerah.

Seni kerajinan seperti halnya batik,  kerajinan tenun juga merupakan aset dan warisan leluhur bangsa Indonesia. Kerajinan tenun, merupakan salah satu produk tekstil tradisional yang dapat ditemukan dibanyak daerah di Indonesia. Masing-masing daerah memiliki ciri dalam teknik pembuatan dan motif yang berbeda sebagai identitas budaya daerah tersebut.

Generasi saat ini  diharapkan untuk terus dapat melestarikan budaya bangsa ini agar tidak punah dilekang zaman. Bertolak dari hal tersebutlah, guna melestarikan budaya dan meningkatkan produksi kerajinan tenun, bertempat di Museum Tekstil Nasional diadakan sebuah diskusi terbuka dalam rangka persiapan deklarasi serta penetapan Hari Tenun Nasional.

Acara ini dihadiri oleh Dr.Anna Mariana, S.H,M.H, selaku Ketua panitia acara Deklarasi Hari Tenun Nasional, Dr. Mariah Woworuntu, selaku Sekjen Traditional  Textile Art Society of South East Asia-ASEAN (TTASSEA), dan Tengku Ryo Rizqan selaku Ketua Umum Komunitas Tekstil Tradisional Indonesia (KTTI).

Anna Mariana
Anna Mariana (Foto: IB)

Pada kesempatan ini, Dr. Mariah Woworuntu  menyebut tenun khas Indonesia berbeda dengan yang ada di negara lain. Setiap lembar tenun  di Indonesia  dibuat dengan falsafah.  Baik falsafah warna, motif, dan ukuran.  Dan  lebih istimewanya, proses pembuatan tenun sendiri  memperlihatkan  kedekatan hubungan dengan Tuhan, Manusia dan lingkungan. 

“Yang  vertical  adalah berfungsi menandakan  hubungan  dengan yang di Atas,  Ilahi. Sementara  bagian yang horizontal  adalah menggambarkan hubungan antar manusia dan lingkungannnya,” papar Dr. Mariah Woworuntu.

Menurut pengamatan Mariah, kain tenun di beberapa tempat Indonesia digunakan di saat-saat  khusus,  seperti pada upacara  dari sebelum kelahiran hingga kematian. Yang semuanya  memiliki arti dan harapan bagus, fungsinya adalah untuk keselamatan,  perlidungan, rejeki dan  lain-lain.

Oleh karena itu menurut Dr. Anna Mariana, S.H,M.H, Hari Tenun Nasional sangat penting kita perjuangkan untuk dirayakan seluruh warga negara Indonesia, karena ini adalah wujud dalam pelestarian budaya Indonesia.

“Seperti halnya hari batik yang sudah dideklarasikan dengan ada hari batik nasional. Tenun sebagai produk tradisional yang sudah ada sebelum ditemukannya batik, sangat disayangkan jika para pengrajin tenun tidak mendapat perlakuan yang sama dengan produk tradisional lainnya,” kata Anna Mariana.

"Produk tenun tradisional sudah ada sejak sebelum batik. Kedua budaya tradisional ini merupakan warisan budaya leluhur bangsa kita kalau kita tidak melestarikanya, alangkah sayang betapa kita tidak mencintai budaya yang ditakutkan nantinya akan diakui oleh bangsa lain," sambung Anna Maria.

Bersama dengan Mariah Waworuntu dan Tengku Ryo Rizqan, Anna Mariana berusaha memperjuangkan pelestarian budaya tenun baik dari sisi hukum dan juga pencanangan hari tenun nasional. Sebagai wujud kepedulian mereka dalam hal pelestarian budaya dan mempertahankan ketahanan sandang Indonesia agar tidak punah ke depannya.

Anna Mariana
Foto: IB

Lebih  lanjut Anna menyebut,  “Tenun dan songket hakikinya bukan hanya selembar kain, tetapi juga symbol budaya yang telah merasuk dalam kehidupan sosial dan spiritual masyarakatnya,”

Untuk itu,  masih menurut Anna, sudah selayaknya pemerintah memberikan perhatian dan pengakuan akan keberadaanya, karena hal ini telah diamanatkan dalam UUD 1945 (Amandemen II) Pasal 18B ayat (2) dan Pasal  28C ayat  (2),UUD 1945 Pasal 28 ayat  (3), Pasal 32 ayat (1), Pasal 33, dan UU  Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan RI.

"Betapa penting bagi kita untuk mendukung  pelestarian budaya Indonesia sendiri, merupakan kewajiban dan keterpanggilan kita semua yang mau menghargai budayanya sendiri," sambung Anna Mariana.

Bentuk dari perhatian pemerintah itu, adalah dengan menetapkan adanya peringatan hari Tenun Nasional. “Kita bersyukur bahwa Hari Batik Nasional sudah ditetapkan untuk diperingati setiap tanggal 2 Oktober. Kini giliran wastra Tenun untuk kita perjuangkan bersama dan diperingati secara Nasional,”  kata  Tengku Ryo Rizqan dari KTTI.  

KTTI sendiri adalah sebuah wadah generasi muda pencita tenun  yang sadar ketahanan sandang Nasional berbasis budaya.  

“Alhamdulillah perjuangan kita bersama disambut baik oleh Bapak Presiden Joko Widodo, insha Allah beliau  akan menandatangani dan menetapkan tanggal 7 September sebagai Hari Tenun Nasional. Penetapan ini akan dideklarasikan pada Minggu 24 Februari 2019,"  kata Ryo lagi.

Dipilihnya tanggal 7 September sebagai hari Batik Nasional, Ryo juga telah  melakukan justifikasi akademis dan sejarah, yang akhirnya menemukan sebuah sejarah, yang jarang diungkap, bahwa Indonesia pada tanggal 7 September 1929 dr. Soetomo pernah  mendirikan sekolah tenun di Surabaya.

Hadir dalam acara ini sebagai undangan para pemerhati dan pejuang Wastra Nusantara. Acara ini juga didukung oleh kementrian RI. (YD)