Home | News | Mengintip Persiapan Pagelaran ‘Genta Sriwijaya’, Kisah Sipiritual Perjalanan Sang raja Sriwijaya

Mengintip Persiapan Pagelaran ‘Genta Sriwijaya’, Kisah Sipiritual Perjalanan Sang raja Sriwijaya

News - 18 November, 2018 Oleh @Yulia Dewi

Genta Sriwijaya adalah suatu pentas tari dan drama yang menceritakan tentang perjalanan spiritual dan kejayaan raja Sriwijaya pada abad delapan dengan sentuhan kekinian

WowChannelz.com -   Pagelaran kolosal yang melibatkan sekitar 200 orang ini sudah semakin dekat. Pagelaran yang akan dilaksanakan tanggal 20 November 2018 nanti sudah hampir siap dipentaskan.

WowChannelz berkesempatan mengintip latihan pagelaran ini yang dipimpin oleh Kenthus Ampiranto sebagai sutradara dan Denny Malik sebagai Creative dan Show Director. Didampuk sebagai Art Director adalah Rangga Joned, sementara Music Directornya adalah Tohpati.

Iringan musik orchestra berkumandang di gedung Be Junction yang digunakan sebagai tempat latihan, terlihat Tohpati sedang mencocokan beberapa nada tradisional yang dipadukan dengan musik kekinian. Genta Sriwijaya merupakan cerita sejarah yang dikemas dalam bentuk pagelaran seni modern, gabungan antara seni tari, musik, teater, dan komedi yang dipadu dengan tata panggung, tata cahaya, serta permainan multimedia. 

“Pagelaran drama tari ini kita ambil dari abad ke delapan, jadi cerita masa lalu tentang kekayaan dari kebudayaan kita, kerajaan Sriwijaya. Kita ingin menceritakan kalau nusantara begitu besar dengan kebudayaannya, begitu juga dengan kejayaannya kemudian kita juga melihat bahwa dari segi gerakan, pakaian, asal usul budaya kita itu dimulai dari abad ke delapan. Disini kita memperlihatkan identitas yang kita punya, dan kita ingin memperlihatkan sesuatu tontonan budaya  walaupun dikemas dalam bentuk kekinian,” papar Denny Malik disela break latihan, Sabtu (17/11).

Genta Sriwijaya
Denny Malik sebagai creative dan art director (foto: Yd)

Menurut Denny Malik, walaupun nanti kisahnya dari abad ke delapan, namun ia akan menampilkan kebudayaan dengan mengeksplorenya secara kekinian. Baik dari sisi musiknya, pakaian serta tariannya.

“Dari gerakannya kita tahu memang sangat sederhana dengan kita eksplore semua dengan gerakan yang ada di Indonesia, kemudian dengan pakaian-pakaiannya. Kita ingin memberikan suatu pertunjukan untuk khususnya generasi muda untuk kita semua disemua umur layak melihat mempertunjukan ini.  Karena ini original kebudayaan kita tetapi saya mengemasnya dalam bentuk modern,” tambah Denny Malik.

Sebagai creative dan show director, Denny ingin memberikan suatu artistik dari pertunjukkan baik dari segi koreografi, kostum, serta aksesorisnya dengan menampilkan sentuhan artistik.

“Seluruh performers ada beberapa yang memang  professional. Kita ada Ruth Sahanaya sebagai penyanyi, ada Dea Miranda sebagai pemeran utamanya kemudian ada pendukung-pendukung lainnya dan sebagian penari dari komunitas pecinta seni dan budaya Indonesia dari semua umur mulai dari anak-anak sampai dengan dewasa. Ada anak muda dari berbagai background ada pengusaha, dokter, pengacara, dan ibu rumah tangga,” papar Denny Malik.

Hampir 70% yang ikut dalam pagelaran ini adalah orang-orang yang bukan professional di bidang tari, namun hal tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi Denny Malik. Menurutnya ada kepuasan tersendiri jika bisa menampilkan sebuah karya yang melibatkan beberapa orang yang masih amatir di bidang ini.

“Kalau saya biasanya mendirect orang yang sudah professional. Justru tantangan saya kemarin sudah terbukti pada saat Asian Games semua amatir tapi sudah terbukti mereka rajin, giat dan  akhirnya mereka bisa menampilkannya sebagai suatu professional dan itu sudah terbukti. Ada kepuasan tersendiri saya bisa menangani orang-orang yang masih amatir, beda dengan professional, dan 70% mereka amatir,” katanya.

“Ternyata masih banyak  Jadi masih banyak orang kita yang masih menyukai seni dan kebudayaan Indonesia, mereka suka dengan pertunjukan-pertunjukan yang berlatar belakang seni budaya. Saya senang dengan hal itu,” ujar Denny Malik.

Acara yang sudah tinggal 3 hari ini, adalah latihan yang hampir sudah mereka jalani selama dua bulan ini. Denny mengaku masih ada beberapa gerakan yang missed dalam beberapa gerakan koreografi, mengingat background performers yang berasal dari segala bidang tidak bisa setiap hari mereka latihan.

“Boleh dibilang 95 % sudah ok, ini masih deg-degan jujur beberapa gerakan koreografi masih ada aja yang missed tapi dalam waktu tinggal 3 hari ini jujur kita latihan dari pagi sampai sore sampai malam jadi harus kasih pengertian.  Yang bikin saya nervous adalah mereka bukan dari professional ada jamnya dan mereka sudah tahu apa yang dilakukan, dasarnya mereka adalah orang awam dalam entertain,” ungkapnya.