Waqid Khalid Ungkap Pernah Cinta 100 Hari Dengan Nagita Slavina

news | 6 April, 2017 16:09 WIB , Oleh Fitriawan Ginting

Modal tampang bule, siap main film dan sinetron

WowChannelz.com - Di Indonesia, orang bule biasanya laris manis menghiasi layar kaca maupun film layar lebar. Karena berkat ketampanan atau kecantikan dan gaya bertutur yang kocak. Seperti halnya Waqid Khalid. Pria kelahiran Singapura ini, berhasil menyuguhkan kualitas aktingnya di beberapa judul sinetron. Ia mengawali karier di dunia entertaint sebagai model dan bintang iklan selama empat tahun. "Pas sudah banyak lihat di majalah, dipanggil casting dan sudah banyak foto-foto di majalah," cerita Waqid saat berbincang dengan WowChannelz.com belum lama ini. Debut Sinetron Sinetron pertama yang ia bintangi adalah Cinta 100 Hari. Pada sinetron garapan Rapi Films itu, ia beradu akting dengan istri Raffi Ahmad, Nagita Slavina. Wah ko bisa ya? Selain dengan Nagita, Waqid juga bermain dengan Nadia Vega, dan Firnina Sinathrya pada sinetron yang tayang sejak 5 April 2005 sampai Juli 2005 itu. Saat itu, dirinya belum memiliki manajemen dan nekad mengurus segalanya seorang diri. Tidak jauh berbeda dengan sinetron drama lainnya, pada sinetron Cinta 100 Hari ia berperan jadi cowok tajir yang jatuh cinta dengan wanita dari latar belakang yang sederhana. Wanita itu adalah Gigi, sapaan akrab Nagita Slavina. "Pas lagi pulang kuliah terus ada perempuan yang financial orangtuanya susah. Dia (Gigi) ngelempar minuman karena lagi sebal terus kena mobil aku. Aku bikin kontrak sama dia untuk benerin mobil aku. Dia harus jadi pembantu di rumah saya selama 100 hari," ungkapnya. Pertama kali bermain sinetron, dan langsung dipasangkan dengan Nagita Slavina tentu menjadi tantangan tersendiri. Apalagi Waqid lebih terbiasa pose di depan kamera untuk jadi model, bukan akting sebagai aktor. Juga harus berdialog dengan bahasa Indonesia. "Pasti susah karena bukan cuma sama Gigi berhadapannya tapi pertama kali akting di depan kamera dan pakai bahasa Indonesia," kenangnya. Untungnya, ibu dari Rafathar Malik Ahmad itu cukup humble. Sehingga bagi Waqid, tidak sulit untuk membangun chemistry dengannya. Karena mereka sudah menemukan kecocokan saat ngobrol. "Sebenarnya hangout sih enggak tapi Gigi orangnya friendly hyperactiv dia sudah bikin kita merasa dekat dengan dia. Aku juga berusaha mencoba dekat ke semua bukan cuma Gigi doang sih tapi bangun chemistry sama tim lain," tambahnya. Belajar
Waqid Khalid

Waqid Khalid

Pengalaman memang menjadi pelajaran berharga. Begitu juga yang dirasakan oleh Waqid. Pemain film Honeymoon ini mulai sedikit demi sedikit mengembangkan kemampuan berakting. Serta membiasakan berdialog dengan bahasa Indonesia. Sinetron pertama jadi pelajaran penting Waqid. Dari situ, ia meminta komentar orang-orang mengenai aktingnya. Juga koreksi diri untuk mengetahui apa yang kurang dan harus diperbaiki olehnya. Tak puas dengan berkaca dari diri sendiri dan kritikan orang, Waqid gabung ke dalam sekolah teater milik Slamet Rahardjo. Banyak ilmu yang ditimba dari salah satu aktor senior kebanggaan Tanah Air itu. "Akhirnya aku memutuskan untuk ikut kursus akting sama om Slamet Rahardjo, itu sangat membantu apalagi untuk film," ucapnya antusias. Terutama untuk mendalami sebuah karakter yang dilakoni. Om Slamet, begitu ia memanggilnya memberi wejangan kepada Waqid agar harus cerdas melakuakan observasi. "Karena setiap peran yang kita dapat misal antagonis, kita harus paham dulu ini kenapa, apa masalah-masalah yang dia punya sebelumnya. Jadi kita musti mengerti sejarahnya orang agar kita bisa memahami dan perankan," terangnya. Home Sick Salah satu cerita unik dari Waqid. Walaupun lahir di Singapura, tapi ia justru merasa asing di tanah kelahirannya sendiri. Mungkin karena ia hanya tinggal selama 4 tahun di Negeri Singa itu. "Lucu sih sebenarnya waktu saya mau kuliah di Aussy selesai kuliah, cari kerjaan dan tinggal di sana tapi ketika sudah di sana. Tapi pas sudah mulai kuliah kerasa home sick," katanya seraya tertawa. Karena itu, saat berkuliah di Australia, Waqid memutuskan untuk pulang ke Jakarta setiap satu semester sekali. Karena memang lebih banyak sanak keluarga dan temannya yang tinggal di Indonesia. Akhirnya ia memutuskan untuk melanjutkan kuliahnya di Jakarta. "Orangtua sempat marah-marah. Di sana kuliah 3 tahun aku transfer kredit kuliah aku ke Indonesia," imbuhnya. Dan sampai sekarang, Waqid sudah sekira 20 tahun menetap di Indonesia. Ia merasa nyaman dengan pekerjaannya di dunia entertaint. Walaupun ia kini merambah membuka perusahaan sendiri. Bukan tanpa alasan alumni mahasiswa jurusan IT Komputer ini keluar jalur dari konsen kuliahnya. Waqid merupakan orang yang gemar bersosial dan melakukan inovasi. "Yang aku suka di entertainment atau modeling pertama kita bisa ketemu banyak orang, aku suka, traveling, memulai sesuatu yang baru aku enggak suka misal disuruh kerjaan kantoran yang office hour. Karena aku pas kecil sudah ikut orang tua travelling ke Jepang, Australia, Jordania, Singapura, Thailand jadi dari kecil terbiasa dengan traveling dan ketemu orang baru, bahasa baru, kebetulan aku juga suka bahasa," tukas Waqid Khalid. (Ray/Gig)
Komentar :